Vienna Airport, 28 Oktober 2012.
Alhamdulillah, akhirnya tiba dengan selamat di bandara internasional Vienna Airport. Cuaca cukup dingin, bahkan di dalam bandara. Begitu mendekat pintu keluar, brrrrr, waduh gak nyanggup deh. Tangan langsung dingin meski sudah dibalut sarung tangan. Angin cukup kencang di luar bandara. Jadi gak berani jauh-jauh dari cafe sambil nunggu dijemput panitia. Karena di dalam cafe, pemanasnya full, he he he.
| Layar kedatangan dan keberangkatan bandara Vienna keren dan canggih banget, segede dan sepanjang dinding. Jaket putih saya siap tampil paling atas, he he he |
Sejak di Doha, saya menggunakan Qatar Airways, pilot sudah memberi tahukan bahwa suhu di Vienna adalah 0 (nol) derajat dan akan ada salju.
Hati senang sekaligus dag dig dug. Senang karena akan melihat salju, (meski ini bukan pertama kali saya melihat salju), dag dig dug karena apakah saya mampu bertahan di dinginnya Austria.
Jam 12 lewat banyak, panitianya baru datang. Ternyata teman-teman sesama peserta training berkumpul di tempat yang kurang lebih sama. Cuma karena kita tidak kenal satu sama lain, jadi yah gak tau. Maklum deh, kebanyakan bule, jadi pada males nanya-nanya. Beda sama kita yang orang Indonesia yang suka ngobrol. Halah, padahal orang Indonesia di training ini cuma saya seorang, he he he.
Menuju bis, ternyata semua sudah siap dengan pakaian perang alias jaket dingin dan sebagainya. Termasuk saya. Tapiiii, ternyata ada juga peserta dari negara ASEAN yang cuek bebek dengan jaket dan segala perabotan lenong musim dingin. Jadi cuma pakai sweater dan sepatu teplek bolong-bolong yang di ITC harganya gak sampe 50 rebu. Alamak, cerita tentang mereka nanti aja yahhh, lagian ngomongin orang gak baek, he he he.
Oh ya, dari Jakarta, saya cuma pakai T-shirt dan celana panjang biasa aja. Tapi saya udah bawa gembolan baju longjohn dan jaket dingin di ransel dan baru ganti ketika di bandara Doha. Jadi begitu pesawat tiba di Vienna, saya sudah gak terlalu kedinginan. Pakai jaket tebal, ketika keluar dari bandara.