Thursday, December 13, 2012

Austria dingin, tapi oke, kok

Vienna Airport, 28 Oktober 2012.
Alhamdulillah, akhirnya tiba dengan selamat di bandara internasional Vienna Airport. Cuaca cukup dingin, bahkan di dalam bandara. Begitu mendekat pintu keluar, brrrrr, waduh gak nyanggup deh. Tangan langsung dingin meski sudah dibalut sarung tangan.  Angin cukup kencang di luar bandara. Jadi gak berani jauh-jauh dari cafe sambil nunggu dijemput panitia. Karena di dalam cafe, pemanasnya full, he he he.


Layar kedatangan dan keberangkatan bandara Vienna keren dan canggih banget, segede dan sepanjang dinding.  Jaket putih saya siap tampil paling atas, he he he
Sejak di Doha, saya menggunakan Qatar Airways, pilot sudah memberi tahukan bahwa suhu di Vienna adalah 0 (nol) derajat dan akan ada salju. 

Hati senang sekaligus dag dig dug. Senang karena akan melihat salju, (meski ini bukan pertama kali saya melihat salju), dag dig dug karena apakah saya mampu bertahan di dinginnya Austria.

Jam 12 lewat banyak, panitianya baru datang. Ternyata teman-teman sesama peserta training berkumpul di tempat yang kurang lebih sama. Cuma karena kita tidak kenal satu sama lain, jadi yah gak tau. Maklum deh, kebanyakan bule, jadi pada males nanya-nanya. Beda sama kita yang orang Indonesia yang suka ngobrol. Halah, padahal orang Indonesia di training ini cuma saya seorang, he he he.   

Menuju bis, ternyata semua sudah siap dengan pakaian perang alias jaket dingin dan sebagainya. Termasuk saya. Tapiiii, ternyata ada juga peserta dari negara ASEAN yang cuek bebek dengan jaket dan segala perabotan lenong musim dingin. Jadi cuma pakai sweater dan sepatu teplek bolong-bolong yang di ITC harganya gak sampe 50 rebu. Alamak, cerita tentang mereka nanti aja yahhh, lagian ngomongin orang gak baek, he he he. 

Oh ya, dari Jakarta, saya cuma pakai T-shirt dan celana panjang biasa aja. Tapi saya udah bawa gembolan baju longjohn dan jaket dingin di ransel dan baru ganti ketika di bandara Doha. Jadi begitu pesawat tiba di Vienna, saya sudah gak terlalu kedinginan. Pakai jaket tebal, ketika keluar dari bandara. 

Thursday, October 4, 2012

Awal Cerita

Akhir bulan Oktober 2012 ini saya akan ke Austria untuk mengikuti suatu training. Trainingnya sih cuma sebulan, tapi persiapan harus tetap jadi perhatian terutama winterwear alias baju untuk musim dingin. 

Austria sih belum musim dingin saat itu, baru musim gugur, tapi pas cek-cek di http://www.tourmycountry.com/austria/vienna-in-november.htm suhunya sekitar 4-8 derajat. Wowww, dan Jakarta saat ini bertemperatur 35 derajat. Uhuyyyy.

Longjohn atau baju hanoman adalah baju wajib beli, karena ini adalah pakaian dalaman. Di luarnya kita bisa melapisi dengan T-Shirt, sweater dan jaket. Saya beli dua pc saja. Toh bisa gantian. Harganya Rp 100ribu untuk yang buatan China, Rp 200ribu untuk yang buatan Korea. Yang buatan China terbuat dari Lycra, sedangkan yang buatan Korea terbuat dari katun. Oh ya, saya beli di ITC Mangga Dua, toko yang khusus menjual winterwear. Kalau di Laxmi Winterwear harganya mulai Rp 300rb hingga Rp 800.000, soalnya buatan USA. Saya beli yang buatan China. 

Nah, setelah itu lanjut ke jaket winter. Jaket winter dibuat khusus karena dilapisi oleh semacam busa yang membuat tubuh menjadi hangat. Harganya bikin saya sport jantung, karena dana saya pas-pasan, he he he. Jaket dari bahan parasut mulai Rp 450ribu sampai Rp 1,5 juta tergantung kualitas bahan. Kalau dari  wol mulai Rp 900 ribu. Cantik-cantik memang, seperti di majalah. Keren deh.

Berhubung dana terbatas dan training cuma 1 bulan, saya memutar otak, jadi saya memutuskan untuk menghubungi teman-teman dan kerabat yang pernah keluar negeri. Pasti mereka punya winterwear kan (kalau gak ditinggal di sana).

Ternyata gayung bersambut, ada yang meminjamkan! Dan kemudian beberapa dari mereka curhat, bahwa daripada menuh-menuhi lemari mereka, mereka minta saya menjualkan kepada mereka yang butuh winterwear. Tentu saja yang ada saat ini adalah jaket winterwear. Kalau longjohn, kayaknya gak enak ya, pakai bekas orang lain, he he he. 

Nah, inilah awal ceritanya saya mau jualan winterwear. Harga mulai Rp 250ribu. Nah, beda jauh kan dengan yang baru. Foto-foto jaket winterwearnya akan diposting. Berhubung winterwear second, maka ukuran, model dan warna gak ada pilihan. Cuma itu saja yang tersedia.